Kamis , Januari 20 2022
Home / Peristiwa / Hidup Tukang Tahu Dower dan Cireng ini Berakhir di Sungai Way Ratai

Hidup Tukang Tahu Dower dan Cireng ini Berakhir di Sungai Way Ratai

LAMPUNG1COM, Way Ratai – Penjual “Tahu Dower dan Cireng” asal Kota Kembang, Ucup Supriyadi (39) berakhir di Sungai Way Ratai. Perilaku Ucup kesehariannya sangat unik, setiap kemana saja ia berpergian selalu membawa tas punggung berupa parasut yang isinya alat-alat sholat seperti sarung, baju koko dan sajadah.

Selain tas yang selalu dibawanya, ia juga setiap pagi hari selalu melaksanakan Sholat Duha terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah. Ia sangat taat beribadah dan familiar terhadap tetangga maupun kerabatnya. Hal itu dilakukan ucup saat ia masih menjadi salah satu penghuni yayasan di Bekasi.

BACA JUGA:  PWI Lampung Timur & Metro Lakukan Kunjungan Pariwisata Ke Bali

Keseharian Ucup yang telah mempunyai dua anak, dan akan merubah nasibnya, ia merantau dari Kota Kembang ke Bekasi. Sesampainya di Bekasi, ia mengikuti kawan sekampung yang tinggal di salah satu yayasan di Bekasi.

Tidak lama tinggal di yayasan, Ia menyibukkan diri dengan menjual “Tahu Dower dan Cireng”, diseputaran tempat Masriyah bekerja sebagai penunggu Counter Handphone. Akibat sering membeli tahu yang dijualnya, lama ke lamaan gayung pun bersambut dan mereka menjalin hubungan hingga ke pelaminan.

BACA JUGA:  Raih Mendali Di Olimpiade, Pemkot Metro, Cuma Pasang Karangan Bunga.

Setelah itu mereka menikah di Dusun Hayam, Desa Bunut, Kecamatan Way Ratai di mana asal Masriyah. Tepatnya tanggal 3 Juli 2013 Masriyah di persunting Ucup Supriyadi. Setelah acara pernikahan, Ucup dan Masriyah kembali lagi ke Bekasi.

Sesampainya di Bekasi ia menyewa rumah di Perum 1 Bekasi Barat. Selama setahun ia menghidupi keluarganya dengan menjual Tahu Dower dan Cireng. Setelah 2 tahun di bekasi dan hasil penjualannya hanya dapat mencukupi biaya hidup sehari-hari.

Karena penglihatan dan usia mertuanya sudah mulai berkurang, Ucup diajak Masriyah ke kampung halamannya untuk mengurus kebun dan sawah milik orang tuanya. Baru berjalan 8 (delapan) bulan ia hidup di Desa Way Ratai. Ia mengurus kebun coklat dan sawah di Cipanas serta kolam di Sukajaya. Di kolam ini selain ada ikan nila dan emas, ucup menanam kangkung.

BACA JUGA:  PD VIII KB FKPPI Lampung Kembali Berikan Bantuan Korban Tsunami Tahap IV

Namun ajal berkata lain, Ucup berakhir hidupnya dikampung halaman sang istri karna terseret arus sungai Way Ratai. Hingga kini Ucup belum juga ditemukan, walaupun telah dikerahkan bantuan dari beberapa tim penyelamat serta alat lengkap.

Zaini L7/Hendri.

Baca Artikel Menarik di LV

About admin

Check Also

4 Mobil Tangki di Police Line, Pihak Polda Kepri Belum Bisa Beri Komentar

LAMPUNG1.COM, Batam – Empat (4) unit mobil tangki pengangkut solar industri terparkir dan diberi Police Line …

5 comments

  1. subhanallah .. walaupun gmna keadaan nya tetep taat beribadahh.. salut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *