Rabu , Oktober 20 2021
Home / Hukum Kriminal / Sutiyoso : Kapal Lewat Jalur Rawan Pembajakan Harus Dikawal
jawapos.com

Sutiyoso : Kapal Lewat Jalur Rawan Pembajakan Harus Dikawal

LAMPUNG1COM – Kelompok radikal pimpinan Abu Sayyaf kini kembali beraksi dengan menculik empat orang WNI setelah sebelumnya telah menculik 10 WNI di perairan Filipina.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan motif penyanderaan WNI ini masalah uang karena mereka meminta tebusan. Saat ini TNI dan Polri terlah berkoordinasi dengan pemerintah Filipina untuk membebaskan para sandera WNI itu.
Berikut ini nama dan identitas lengkap 10 WNI yang ditawan kelompok Abu Sayyaf tersebut:
1.Peter Tonsen Barahama, kelahiran 8 November 1985, asal Batu Aji Batam.
2. Julian Philip, kelahiran 27 Juni 1966 asal Minahasa.
3. Alvian Elvis Peti, kelahiran 11 Agustus 1983, asal Tanjung Priok Jakarta

4. Mahmud, kelahiran 12 Juni 1984, asal Banjarmasin Kalimantan Selatan.

5. Surian Syah, kelahiran 27 Agustus 1982 asal Kendari Sulawesi Tenggara.

6. Surianto, kelahiran 21 Agustus 1985, asal Gilireng Wajo Sulawesi Selatan.

7. Wawan Saputra, kelahiran 30 Desember 1993, asal Palopo Sulawesi Selatan.

8. Bayu Oktavianto, kelahiran 16 Oktober 1993, asal Klaten Jawa Tengah.

9. Rinaldi, kelahiran 26 April 1991, asal Makassar Sulawesi Selatan.

10. Wendi Raknadian, kelahiran 3 Oktober 1987, asal Padang Sumatera Barat.
Sementara itu empat WNI yang menjadi sandera Abu Sayyaf dari kapal TB Henry yang berisikan 10 awak kapal. Kapal tersebut menarik tongkang Christy. Sedangkan enam lainnya berhasil selamat. Namun, salah satunya dalam kondisi tertembak.
Pembajakan terjadi ketika kapal dalam perjalanan dari Kota Cebu, Filipina, kembali menuju Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (15/4) pukul 18.30 WIB. Sekitar 15 mil dari Tawau, Malaysia.
Komandan Patroli Kantor Kesyahbandaran Otoritas dan Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tarakan Syaharuddin mengatakan, dari 10 WNI tersebut, enam orang awak kapal berhasil diselamatkan Polisi Maritim Malaysia. Sedangkan sisanya masih disandera.
‚ÄúDari enam orang ini, satu orang WNI yang bernama Lambas Simangkulat (Oiler) terkena luka tembak,” ujarnya, Sabtu (16/4).
Menurut dia, saat ini korban tembak sudah berada di Rumah Sakit Semporna, Malaysia, untuk menjalani perawatan. Sedangkan empat WNI yang masih disandera masih belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Empat awak kapal yang masih dalam penyaderaan kelompok yang diduga Abu Sayyaf terdiri dari Moch Ariyanto Misnan (Master), Loren Marinus Petrus Rumawi (Chief Officer), Dede Irfan Hilmin (Second Officer), dan Samsir (A/B).
Sofitje Salemburung, ibunda salah satu WNI yang disandera,Peter Tonsen Barahama semakin bersedih mendengar adanya WNI lain disandera Abu Sayyaf di kapal berbeda.

BACA JUGA:  Pengaspalan Jalan TMMD Bojonegoro Dilakukan Dengan Seksama Dan Ketelitian

“Ini membuat saya menangis. Peter dan kawan-kawan belum diselamatkan, sekarang tambah lagi WNI yang disandera. Kami minta keseriusan pemerintah,” ujar Sofitje Salemburung saat ditemui di rumahnya di Taman Sari, Mapanget, Manado, Senin (18/04/2016).

Dari berbagai pemberitaan yang ada, lanjut Sofitje, dia menilai masih ada tarik-menarik antara pemerintah RI dan Filipina tentang upaya pembebasan sandera. Ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membebaskan anaknya dan sandera lain.

BACA JUGA:  Pemprov Lampung Dukung GPR dalam KIM Guna Kemajuan Daerah

“Kami tidak paham secara jelas proses pembebasan Tapi ini sudah tiga minggu dalam situasi tidak pasti,” kata Sofitje.
Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Letjen (Purn) Sutiyoso mengatakan,pemerintah telah melakukan upaya pembebasan para WNI yang masih dalam penguasaan kelompok radikal yang berbasis di kawasan Filipina Selatan itu.

Seperti yang diungkapkan oleh Sutiyoso yang dikutip dari liputan6.com saat mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja ke Berlin, Jerman, Pada Senin (18/4/2016). “Pemerintah sudah maksimal melakukan langkah- langkah yang terbaik. Tapi, apa yang sudah berjalan saya tidak bisa buka,” ujarnya
Menyusul terjadinya dua rentetan aksi penyanderaan WNI oleh kelompok Abu Sayyaf dalam beberapa minggu ini, Sutiyoso mengatakan, Pemerintah telah melakukan langkah antisipasi dengan menggelar latihan perang serta pembebasan sandera dan peningkatan keamanan di wilayah perbatasan Kalimatan-Malaysia yang berdekatan dengan perairan Filipina

BACA JUGA:  Selain Gula Kristal Inilah Salah Satu Oleh-oleh Jika Datang ke Desa Wisata Petahunan Banyumas

Ia juga telah berkoordinasi kepada seluruh pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga keamanan laut khususnya di wilayah perbatasan. Selain itu, ia juga mengusulkan untuk adanya pengawalan bagi setiap kapal yang melintas di wilayah rawan.

“Karena itulah kita harus makin waspada, jadi saya sudah sarankan ke Presiden bahwa patroli keamanan laut TNI AL dan Polri akan kita intensifkan di perbatasan. Dan mesti pengiriman ke sana harus ada pengawalan,” ucapnya.

Pada Jumat 15 April 2016 malam, 4 pelaut Indonesia diculik kelompok bersenjata yang diduga kawanan dari Abu Sayyaf di perairan perbatasan Filipina dan Malaysia.Insiden ini adalah pembajakan yang ketiga kalinya dalam sebulan terakhir yang dialami kapal di perairan internasional di Tawi-Tawi, pulau milik Filipina yang berbatasan dengan pantai timur Sabah, Malaysia.
Sebanyak 10 awak kapal WNI juga disandera pada 26 Maret 2016 tepatnya di perairan Tambulian, di lepas pantai Pulau Tapul, Kepulauan Sulu, Filipina. Total saat ini WNI yang disandera oleh Abu Sayyaf berjumlah 14 orang.

Sumber: Liputan6.com-JawaPos.com

(Dirangkum oleh : Salsa Khalisah)

Baca Artikel Menarik di LV

About Fatih Samudera

Check Also

Wirahadikusuma Kunjungi PWI Pringsewu

LAMPUNG1.COM, Pringsewu- Wirahadikusuma memastikan dirinya untuk maju menjadi calon ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung …

2 comments

  1. bagus.. harus ada pengawalan yg ketat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *