Selasa , Oktober 19 2021
Home / Ruwa Jurai / Kota Bandar Lampung / Lampung Kembangkan Peternakan Melalui Integrated Farming System

Lampung Kembangkan Peternakan Melalui Integrated Farming System

LAMPUNG1.COM,Bandar Lampung – Provinsi Lampung bertekad mengembangkan peternakan melalui sistem yang terintegrasi atau Integrated Farming System sebagai penggabungan semua komponen pertanian dalam suatu sistem usaha pertanian yang terpadu.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Lampung Ir. Dessy Desmaniar Romas, MM mengatakan, sistem ini mengedepankan ekonomi yang berbasis teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi semua sumber energi yang dihasilkan.

“Pengembangan pertanian adalah pendekatan dengan mulai mengarah ke sistem agroindustri atau berbasis industri yang bisa dijadikan sebagai nilai tambah,” ujarnya.

Dessy menjelaskan, Disbunnak Lampung, saat ini sedang menggalakkan program Integrated Farming System yang diterapkan pada area Sentra Peternakan Rakyat (SPR) di 3 (tiga) kabupaten yaitu Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Lampung Tengah, dengan memfungsikan kotoran ternak untuk diolah lebih lanjut biogas, pupuk organik dan juga pupuk cair organik.

Program ini, kata dia, dapat mengoptimalkan hasil ternak mereka secara baik. Menyusul kemudian yang akan dikembangkan adalah wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat, Tulang Bawang, dan Way Kanan. Untuk tahun 2017 ini integrasi antara Kopi dengan Kambing akan diterapkan di wilayah Kabupaten Lampung Barat.

BACA JUGA:  Pengabdian kepada Masyarakat, Kodim 0410/KBL Membedah Rumah Warga Garuntang

Dengan program Integrated Farming System tersebut, selain peternak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan hewan ternak. Juga dapat mengoptimalkan pemupukan lahan pertanian tanpa mengeluarkan dana lagi untuk membeli pupuk kimia, serta energi yang dihasilkan biogas dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan, dan kompor gas sebagai pengganti LPG.

Melalui program Integrated Farming System dan agroindustri, pengembangan peternakan di Provinsi Lampung bisa lebih antisipatif terhadap perubahan yang terjadi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan selalu memiliki dua sisi mata uang, antara kebaikan dan keburukan. Dampak lain dari kemajuan tersebut adalah ancaman terhadap lingkungan hidup.

Peternakan, kata dia lagi, adalah satu di antara penyebab terjadinya efek gas rumah kaca melalui Gas Metana yang dihasilkan. Program yang dikembangkan melalui model Inegrated Farming System ini adalah bagian dari usaha untuk mengurangi dampak tersebut melalui pemanfaatan limbah peternakan menjadi biogas, bio urine, dan pupuk organik.

Menurut Dessy, seiring dengan kemajuan jaman, teknologi berperan penting dalam mengubah pola hidup dan pendekatan manusia terhadap lingkungannya. “Kemajuan dan perubahan yang terjadi harus dapat disikapi dengan arif dan bijaksana demi kelangsungan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya petani peternak,” ujarnya.

BACA JUGA:  Danrem 071 Wijaya Kusuma Tekankan Protokol Covid-19 di Lokasi TMMD Reguler Banyumas

Sifat antisipatif terhadap perubahan ini, kata dia lagi, tidak dapat dilakukan hanya sekedar dengan pendekatan hanya dari satu sisi namun perlu pendekatan secara terpadu dan berkesinambungan.

Sifat antisipatif terhadap perubahan ini, kata dia, tidak dapat dilakukan hanya sekedar dengan pendekatan hanya dari satu sisi namun perlu pendekatan secara terpadu dan berkesinambungan.

Menurut Dessy, model usaha ini sangat cocok digunakan di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan limpahan sinar matahari sepanjang tahun dan curah hujan tinggi. Sistem ini memiliki tujuan yaitu manusia yang harus dipenuhi kebutuhannya. Model yang dikembangkan memiliki pola yaitu sektor peternakan berada dibagian pusat kegiatan dan dikelilingi oleh kegiatan ekonomi pertanian yang saling berkaitan satu sama lain misalnya perikanan, ladang atau persawahan dan pengelolaan limbah (waste treatment).

BACA JUGA:  DPRD Kota Batam Gelar Rapat Paripurna Laporan Banggar Pembahasan RAPBD TA 2019

Dengan potensi yang ada seperti ketersediaan lahan, kecukupan pakan yang dapat diolah dari limbah pertanian dan perkebunan yang ada, Provinsi Lampung sangat tepat menerapkan model Integrated Farming sistem ini. Namun sistem ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peningkatan pengetahuan SDM. Pengembangan ini tidak hanya untuk pemerintah, tapi yang lebih utama adalah para peternaknya. Peningkatan dalam hal kemampuan mengolah pakan, memanfaatkan teknologi pengolah limbah yang ramah lingkungan, dan kemampuan manajerial dalam pengembangan usaha untuk peningkatan pendapatan.

Dessy menambahkan, perlu dilakukan transfer teknologi terhadap para peternak agar bisa menerapkan sistem tersebut, melalui pelatihan secara berkesinambungan. Dan patut diingat juga pentingnya membangun komitmen bersama demi tercapainya tujuan dari penerapan sistem ini. Sistem yang mengiterintegrasikan antar sektor ini perlu kerjasama semua pihak, tidak hanya Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, namun harus ada kerjasama dan koordinasi antar dinas seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertanian TPH, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta dinas lainnya. (Red)

Baca Artikel Menarik di LV

About admin

Check Also

10 Cabang PSHT Sumsel Resmi Di Lantik

Lampung1.com,Pali – “Kepengurusan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dilantik secara serentak Kabupaten/Kota se- Sumatera Selatan,  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *