Senin , Februari 22 2021
Home / Ruwa Jurai / Lampung Selatan / Ini Tips Penangkal Hoax Ala Juniardi

Ini Tips Penangkal Hoax Ala Juniardi

LAMPUNG1.COM, Lampung Selatan – Berita bohong alias hoax telah menjadi perhatian serius Negara bahkan sampai membentuk jaringan anti hoax, dan masif dilakukan sosialisasi kesemua lini mulai dari kantor pemerintah, Kampus, hingga Pers itu sendiri. Pemicu awalnya adalah berkembangnya teknologi internet, dan demam medsos. Dunia maya dan media sosial menjadi saluran penyebaran hoax yang paling sulit dikendalikan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Juniardi, S. IP., MH, saat menjadi pembicara di acara pelatihan OJK Lampung,  Senin-Selasa, 10-11 Desember 2018, di grand Elty Krakatoa, Kalianda.

Selain smart menggunakan medsos ujar Juniardi, cara praktis menangkal hoax adalah dimulai dari diri sendiri. Kondisi saat ini semua bisa terpapar hoax, termasuk media yang juga terbawa arus.

“Yang bisa kita lakukan adalah mencegah hoax itu tersebar lagi dengan berhenti menyebarkannya ke lingkaran pertemanan kita,” ujar Juniardi.

Juniardi memberikan beberapa tips untuk menghentikan peredaran hoax di Internet, adalah dengan memastikan kebenarannya.

“Cukup mudah memastikan kebenaran sebuah informasi di era googling saat ini. Kita tinggal mengetik di kolom pencarian. Baca baik-baik, lihat sumber beritanya. Kalau sudah pasti hoax, hapus, atau tertawakan saja,” kata Pimpred sinarlampung.com ini.

Terkadang muncul keraguan, maka bisa lakukan komunikasi dengan kerabat, keluarga atau orang dekat yang mungkin tahu soal itu, dan yakin bisa lebih valid, dan bisa dipercayai mengenai sebuah berita. “Bagi pers, tentunya bisa menangkal hoax dengan melakukan kerja kerja jurnalistik, tabayun, teliti, cermat, komfirmasi, turun lapangan,” kata mantan Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung pertama ini.

BACA JUGA:  Dewi Arimbi : Mungkin Tangan Kecil Ini Bisa Dibuat Untuk Beribadah

Hal, lain adalah kita bijak dengan kata kata, dan tidak mudah terpikat dengan kata pancingan. Misalnya “Ini bener enggak ya?” bisa jadi pemancing yang baik dan pembuat hoax tahu itu. “Lalu, bagaimana jika Hoax itu benar, tapi dikabarkan hoax,” tanya salah satu peserta. “Ya, sebagai jurnalistik yang lakukan kerja kerja wartawan. Dan tulis dengan hati hati, tanpa menjust, tanpa membuat semakin rius, bisa pertimbangan kepentingan naluri wartawan,” katanya

Terkait ujaran kebencian (hate speech) yang mengiringi kebebasan berpendapat di media sosial. Alumni MH Unila ini menjelaskan bahwa sejak pilpres 2014 lalu, istilah ‘hater’ pun dikenal luas, yang menandai orang-orang dengan kecenderungan membuat pesan ujaran kebencian pada orang atau kelompok tertentu.

Bahkan saat ini ada sekelompok orang yang membuat istilah hoax tapi membangun. Anggapan untuk berita kebohongan yang ditujukan untuk niat kebaikan. Walaupun selamanya tak dibenarkan untuk berbohong terhadap kenyataan yang ada. “Tapi tidak sedikit yang menyatakan permasalahan saat ini, informasi hoax telah memecah belah publik. Misalnya, jika dikaitkan dengan momentum Pilkada, publik terbelah menjadi kubu-kubuan,” jelasnya.

Hal itu diperparah dengan kondisi bahwa sejumlah media massa tertentu juga masing-masing sudah berpihak kepada salah satu pihak dan terpolarisasi sehingga kepercayaan masyarakat pada media mainstream sudah luntur.

BACA JUGA:  Tim Verifikasi Dewan Pers Indonesia Datangi Kantor Lampung1.com dan Sinarlampung.com

“Mungkin salah satu langkah yang perlu kita terapkan dalam mengatasi informasi palsu yang selalu berkembang di media sosial saat ini,” ujarnya.

Karena saat ini, dalam melawan hoax dan mencegah meluasnya dampak negatif hoax, pemerintah telah memiliki payung hukum misalnya Pasal 28 ayat 1 dan 2 UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE, Pasal 14 dan 15 UU No. 1 tahun 1946, Pasal 311 dan 378 KUHP, serta UU No. 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskiriminasi Ras dan Etnis merupakan beberapa produk hukum yang dapat digunakan untuk memerangi penyebaran hoax.

Selain produk hukum, pemerintah juga membentuk Badan Siber Nasional yang akan terdepan dalam melawan penyebaran informasi yang dianggap menyesatkan. Selain memanfaatkan program Internetsehat dan Trust+Positif yang selama ini menjalankan fungsi sensor dan pemblokiran situs atau website yang ditengarai memiliki materi negatif yang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Dari sisi kompetensi, literasi media dalam pendidikan kewarganegaraan harus mampu melahirkan kemampuan literasi media yang tinggi ditandai oleh daya kritis dalam menerima dan memaknai pesan, kemampuan untuk mencari dan memverifikasi pesan, kemampuan untuk menganalisis pesan dalamsebuah diskursus, memahami logika penciptaan realitas oleh media, dan kemampuan untuk mengkonstruksi pesan positif dan mendistribusikannya kepada pihak lain.

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti-hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Di grup-grup diskusi ini, warganet bisa ikut bertanya, apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

BACA JUGA:  Ridho Lepas 360 Peserta Raimuna Nasional Gerakan Pramuka XI

Wartawan, harusnya punya cara cepat engidentifikasi berita misalnya. Septiaji Eko Nugroho selaku Inisiator Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan Ketua Masyarakat Indonesia Antihoax menyatakan ada beberapa cara dalam menilai suatu berita hoax atau tidak.

“Hati-hati dengan judul provokatif. Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. Cermati alamat situs. Karena menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita,” katanya.

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya, terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

“Maka periksa fakta amati perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Cek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, kita melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan,” pungkasnya. (Red).

About admin

Check Also

361 Tahanan Polres Labuhanbatu Mendapat Asupan Makanan Dan Vitamin Dari Kapolres

LAMPUNG1.COM,LABUHANBATU – Kapolres Labuhanbatu AKBP Deni Kurniawan,SIK MH melalui Kasatres Narkoba membagikan asupan makanan tambahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *