Jumat , Desember 3 2021
Home / OPINI / PAHALA SABAR BERSKALA BESAR (PSBB)

PAHALA SABAR BERSKALA BESAR (PSBB)

Oleh: Heni Anggraeni

Pagi itu jalan nampak lengang. Warung Mang Abdul yang biasanya ramai pembeli, kini sepi. Tak ada tukang ojek atau ibu-ibu yang membeli gorengan di warungnya atau orang yang sekedar ngobrol sambil menyantap kopi bikinan Bi Eti, istri Mang Abdul.

Saat itu Mang Abdul dan Bi Eti tengah mengobrol di dalam warung dengan posisi kaki Bi Eti lututnya ditekuk sedangkan Mang Abdul duduk sambil menopang dagu.

“Pak, warung kita sepi ya hari ini? Hanya satu dua pembeli saja. Ojeg Bapak juga sepi, tidak ada penumpangnya. Kita harus gimana Pak?” tanya Bi Eti pada Mang Abdul.

“Mana cicilan motor belum dibayar lagi…” gerutu Bi Eti.

“Iya harus gimana lagi Bu. Toh bukan kita aja yang mengalami krisis ini,” jawab Mang Abdul. “Justru kita harus bersyukur masih bisa makan, walau pendapatan menurun,” ujarnya lagi.

“Rokok sebatang Mang!” terdengar suara Mas Anto mengagetkan keduanya.

Mang Abdul segera berdiri dan mengambil sebatang rokok pesanan Mas Anto.

“Ngomong-ngomong, tumben Mang Abdul sama Bi Eti pagi-pagi begini berduaan,” kata Mas Anto sambil tersenyum.

Belum sempat Mang Abdul menjawab, terdengar suara seseorang setengah berteriak, “Assalamualaikum. Sapunya satu Mang!”

“Waalaikum salam. Eh, ada Pak Ustaz Cepi. Pagi-pagi kok sudah cari sapu?” jawab Mang Abdul menyambut kedatangan ustad muda itu.

Ustaz Cepi ini paling tidak suka dipanggil dengan sebutan “bapak”, maklum dirinya memang masih remaja.

“Saya kan masih muda Mang. Panggil nama saja ya,” ujarnya penuh canda. “Iya, ini sapu buat bersih-bersih di masjid Mang. Ya daripada di rumah diomelin terus,” lanjutnya dengan nada setengah bercanda.

“Bu Ustaz mah pasti enggak pernah marah atuh. Pasti selalu istiqomah,” ujar Mang Abdul sambil melirik Bi Eti yang sedang beres beres.

Untunglah omongannya tidak didengar Bi Eti. Kalau sampai didengarnya, Mang abdul bisa-bisa kena semprot.

“Eh, ada Mas Anto. Nggak kerja Mas?” tanya Ustaz Cepi yang baru sadar kalau Mas Anto sejak tadi sudah berdiri di sampingnya.

“Itu dia ustaz … Mulai hari ini saya dirumahkan satu bulan tanpa dibayar, padahal sebentar lagi saya akan menikah dengan Sari,” jawab Mas Anto lesu.

Ustaz Cepi tertegun sejenak mendengar keluhan Mas Anto.

“Untunglah Ibu sama Bapak sudah tinggal disini, jadi saya tidak usah repot repot mudik ustaz,” lanjut Mas Anto sambil menyalakan rokok kretek yang baru dibelinya.

“Sambil duduk yuuuk,” ajak Ustaz Cepi pada Mas Anto.

Mas Anto segera duduk sambil menghisap rokok yang baru disulutnya. Sementara Mang Abdul yang dari tadi mendengar perbincangan keduanya segera menghampiri dan duduk tak jauh dari Mas Anto dan Ustaz Cepi.

BACA JUGA:  Pengguna Jalan Dapat Masker Gratis Dari Satgas TMMD Bojonegoro

“Mas Anto…Mang Abdul. Saat ini kondisi lagi sulit. Hampir semua orang mengalami masalah. Semua kalangan dari atas sampai bawah merasakan dampak covid-19 ini, apalagi untuk orang sekelas kita, past sangat terasa sekali,” ujar Ustad Cepi dengan nada datar.

Semua terdiam sejenak. Mas Anto semakin dalam menghisap rokoknya dan berusaha menikmatinya.

“Mungkin istilah PSBB bagi kita adalah Pendapatan Sirna Banyak Biaya,” tambah Ustaz Cepi sambil melirik kedua pria yang duduk di dekatnya itu.

Sontak keduanya bertatapan dan tertawa mendengar celotehan Ustaz Cepi.

“Ustaz mah bisa aja,” sela Mang Abdul sambil kembali tertawa.

“Lha iya benar kan? Bukan hanya warung Mang Abdul yang jadi sepi atau Mas Anto yang harus berhenti dulu dari pekerjaannya, tapi saya pun harus berhenti mengajar mengaji. Jumatan di masjid dilarang, pernikahan juga enggak boleh resepsi, padahal dikampung ini kan saya yang suka jadi hostnya, otomatis hilang dong job saya,” ujar Ustaz Cepi sambil tertawa lebar.

Mang Abdul dan Mas Anto menatap terus ke wajah ustaz muda itu dengan seksama.

“Saya tidak akan malu mengatakan ini karena pendapatan seorang ustaz itu dari keikhlasan murid atau jamaah yang dibimbingnya,” lanjut Ustaz Cepi lagi.

Mang Abdul tertunduk sejenak, sementara Mas Anto tetap asyik memainkan asap rokok dari mulutnya.

“Anak saya sudah tiga, masih kecil-kecil semua. Bahkan niat nambah istri jadi gagal deh,” kembali Ustaz Cepi berceloteh sambil tertawa renyah.

Bi Eti yang sejak dari tadi menyimak pembicaraan ketiga pria tersebut segera bicara dengan lantang.

“Kalau sampai Bapaknya Wulan kawin lagi, nih botol bisa melayang,” sahut Bi Eti sambil memegang botol bekas minuman ringan di tangannya.

“Ha ha ha….”ustaz Cepi dan Mas Anto tertawa sambil menoleh kearah Mang Abdul yang tengah tertawa kecut.

Di tengah gelak tawa ketiga pria tersebut, tiba-tiba seorang pria setengah baya datang dari arah seberang jalan. Ia langsung duduk agak menjatuh diri mereka.

Pria itu menangis tersedu-sedu sambil kepalanya menelungkup pada kedua kakinya. Tentu saja hal ini membuat Ustaz Cepi, Mang Abdul, dan Mas Anto terkesima. Mereka sempat terdiam sejenak. Ketiganya nampak bingung tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun.

Akhirnya Ustaz Cepi mengambil inisiatif berdiri dan menghampiri pria tersebut.

“Pak… Pak…” Ustaz Cepi menepuk-nepuk bahu pria itu.

Pria itu tetap menangis. Tak ada jawaban darinya. Namun, perlahan isak tangisnya mulai mereda. Ustaz Cepi membiarkan pria itu menghabiskan tangisnya hingga bisa menjawab pertanyaannya.

“Bapak siapa? Asal Bapak dari mana?” tanya Ustaz Cepi.

Pria itu masih menunduk, tapi beberapa saat kemudian ia menoleh kearah Ustaz Cepi.

BACA JUGA:  TMMD 110 Bojonegoro, TNI - Rakyat Manunggal Membangun Mushola Kramanan

“Saya Rudi Pak. Saya dari RT 05, masih satu desa dengan kampung ini,” jawab Pak Rudi yang waktu itu masih terlihat sedih.

“Terus apa yang membuat Bapak sesedih ini?” tanya Ustaz Cepi.

Mendengar pertanyaan Ustaz Cepi, Pak Rudi malah kembali menangis. Namun itu tak berlangsung lama. Kemudian Pak Rudi kembali berbicara.

“Saya berjualan buah duku dipinggir jalan karena tidak punya tempat seperti yang lain Setiap hari hanya mencari tempat yang kosong. Itu pun atas izin yang punya tempat,” ujar Pak Rudi sambil menghela napas panjang.

“Dan sudah seminggu dagangan saya itu tidak laku, sampai akhirnya dagangan saya busuk. Saya tidak berani pulang. Saya malu sama istri dan anak saya Pak,” jawab Pak Rudi begitu memelas.

“Saya tidak tahu mereka makan dari mana. Keadaannya gimana? Apakah ketidak pulangan saya berdosa Pak?” tanya Pak Rudi dengan mata berkaca-kaca.

“Sudah berapa lama Pak Rudi tidak pulang?” tanya Ustaz Cepi kembali.

“Tiga hari yang lalu saya masih bisa pulang tanpa membawa uang sepeserpun. Istri dan anak saya hanya makan seadanya. Selanjutnya saya tidak berani pulang karena malu pada istri dan anak saya,” ujar Pak Rudi sambil kembali isak tangisnya terdengar lagi.

“Mang Abdul, Mas Anto kemari. Bi Eti juga boleh gabung sini,” ajak Ustaz Cepi pada mereka yang ada di sana.

Setelah semuanya berkumpul barulah Ustaz Cepi angkat bicara kembali.

“Tolong duduknya jangan terlalu dekat. Kita harus tetap jaga jarak sesuai anjuran pemerintah,” ujar Ustaz Cepi mengingatkan mereka.

“Saya akan menceritakan kisah Nabi Ayyub as. Beliau adalah putra dari Nabi Ishaq as. Nabi Ishaq putra dari nabi Ibrahim as. Nabi Ayyub adalah nabi dan rosul yang kaya raya. Beliau mempunyai banyak anak dan banyak binatang ternak, tapi selalu berbuat baik terhadap fakir miskin dan suka memuliakan tamunya, ” ujar Ustaz Cepi bercerita.

Semua orang yang ada di warung Mang Ujang diam mendengarkan ceramah Ustaz Cepi.

“Kekayaan Nabi Ayyub sedikit demi sedikit mulai surut. Beliau kemudian menjadi miskin. Namun, semua itu tetap tidak menggoyahkan imannya, hingga Allah SWT menambahkan ujian lainnya dengan mengambil satu persatu anaknya berpulang ke rahmatullah. Ujian itu pun tak sedikit pun mengurangi keteguhan imannya,” tambah Ustaz Cepi.

Lalu ustaz muda itu meneruskan, “Sampai akhirnya Allah menurunkan penyakit kulit yang luar biasa serta menjijikkan. bahkan istrinya pun tidak mau merawatnya lagi. Penyakit itu beliau derita selama tujuh tahun. Namun beliau tidak pernah berkeluh kesah, malah semakin banyak memohon ampun dan memuji Tuhannya.Itulah kisah Nabi Ayyub as.”

BACA JUGA:  Pembobol Tower Di Lampung Timur, Berhasil Dibekuk Polisi

“Yang paling penting untuk diteladani dari kisah Nabi Ayyub ini adalah kesabaran dan ketaqwaannya. Cerita Pak Rudi tadi cukup membuat saya tersentuh. Bahkan sayapun hampir menitikkan air mata. Tapi jika kita simak kisah tentang Nabi Ayyub as, sungguh apa yang tengah kita rasakan saat ini tidak ada belum ada apa-apanya,” ujar Ustadz Cepi sambil menatap empat orang yang tengah berada di sekelilingnya.

“Allah SWT tengah menurunkan ujian ke dunia ini agar manusia sadar akan Keagungan dan Kuasa-Nya bahwa tidak ada satu makhluk pun yang bisa mengubah kehendak-Nya,” jelas Ustad Cepi lagi.

Kemudian ustad muda itu berkata lagi, “Mang ujang, Bi Eti, Mas Anto, juga Pak Rudi termasuk saya adalah hanya sekelumit yang Allah gambarkan dari ujian yang diturunkan Allah kepada kita semua. Di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih menderita dibanding kita.”

“Siapa yang mampu bersabar dengan ujian ini maka pahalanya sangatlah besar. PSBB yang tengah pemerintah jalankan, mari kita laksanakan dan PSBB yang tengah kita lakukan adalah karena ingin mencapai Pahala Sabar Berskala Besar. Aamiiin,” urai Ustad Cepi.

Mereka semua mendengarkan ceramah Ustaz Cepi dengan serius. Bahkan, tak terasa rokok yang dihisap Mas Anto sudah habis menjadi puntung. Kemudian terdengar suara azan berkumandang.

“Sudah terdengar suara azan. Mari kita sholat zuhur. Sekalian saya masih punya sisa dari uang kas masjid bisa Pak Rudi bawa pulang. Pak Rudi bisa pulang dan kumpul bersama istri dan anak Bapak lagi. Ambil hikmah atas semuanya. Berdo’alah agar Covid-19 segera berlalu,” ujar Ustaz Cepi sambil menepuk bahu Pak Rudi.

“Oh ya, pulangnya mampir ke sini lagi ya Pak Rudi. Saya titip makanan buat anak Bapak,” ucap Mang Abdul sambil melirik Bi Eti memberi kode agar istrinya itu menyiapkan makanan buat Pak Rudi.

“Ada sedikit dari saya Pak buat ongkos Bapak pulang,” ujar Mas Anto sambil merogoh saju celananya.

“Ya Allah. Hamba sangat malu pada-Mu. Maafkan aku yang telah berburuk sangka pada-Mu,” ujar Pak Rudi sambil kembali menangis dan mengucapkan terima kasih pada Ustaz Cepi, Mas Anto, Mang Abdul dan Bi Eti.

“Sudahlah, yuk kita sholat,” ajak Ustaz Cepi sambil tersenyum.

Saat itu langit cerah, secerah hati Pak Rudi karena bisa pulang berkumpul bersama anak dan istrinya. Mereka tak pernah tahu dari mana uang dan makanan yang dibawa oleh Pak Rudi. Pastinya Allah akan selalu memberi jalan pada hamba-Nya yang ditimpa kesusahan. Oleh sebab itu berbaik sangkalah pada-Nya.

***

Baca Artikel Menarik di LV

About admin

Check Also

Polairud Sediakan 500 Dosis Vaksin COVID-19 Bagi Masyarakat Nelayan Di Lampung Timur

LAMPUNG1.COM, Satuan Polairud Polres Lampung Timur, bersama Polsek Labuhan Maringgai, menyediakan 500 dosis vaksin COVID-19, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PEMBANGUNAN DESA SUKAJAYA LEMPASING