Sabtu , Januari 9 2021
Home / OPINI / Sumiyem

Sumiyem

Oleh: Muhammad Solihin LD

Warjo menahan geram dan emosi pada istrinya. Bukan karena kaos yang dikenakanya menjadi basah kuyup, tapi harga diri sebagai seorang suami yang diinjak-injak. Entah kerasukan setan apa, tega sekali istrinya menyiram segayung air ke wajah Warjo ketika ia sedang tertidur.

Perempuan sadis tersebut adalah Sumiyem, istrinya Warjo. Ia dinikahi Warjo 12 tahun lalu. Sebenarnya Warjo paham betul tabiat istrinya. Selain berwatak keras kepala, Sumiyem juga ambisius, dan pemarah. Namun, dibalik kekurangannya tersebut, ada juga kelebihannya. Ia adalah pekerja keras. Sejak sekolah dasar mereka satu kelas dan pernah duduk satu bangku bersama. Tak pernah terbesit sedikit pun bagi Warjo untuk mempersunting Sumiyem sebagai pendamping hidupnya.

Semenjak tamat sekolah dasar mereka tidak pernah bertemu dan bermain bersama lagi. Sumiyem merantau meninggalkan tanah kelahiranya ketika berusia 10 tahun. Ia pergi ke negeri seberang, Malaysia. Ia diasuh dan dibesarkan bersama bibinya di sana. Bibinya membuka usaha warung makan dan Sumiyem diminta untuk membantunya.

Sumiyem sejak kecil sudah yatim. Selama di Malaysia ia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ada budaya masyarakat di desanya dulu bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup sekolah dasar saja. Jika sudah lulus langsung bekerja membantu orang tua di dapur atau menikah.

Setelah 10 tahun merantau, akhirnya Sumiyem pulang ke desanya. Ia menjadi buah bibir para kumbang jantan di desanya yang berlomba mendekatinya. Usianya pada saat itu baru menginjak 20 tahun.

Dengan rambut ikal, wajah oval, kulit putih mulus dan tubuh sintal, laki-laki mana yang tidak tertarik pada Sukiyem?. Tak ayal semua perjaka di desa tergila-gila pada kecantikanya. Begitu juga Warjo. Entah apa yang menjadi alasan sumiyem memilih Warjo sebagai pendamping hidupnya. Warjolah pemenang dalam kompetisi merebutkan hati Sumiyem.

Kini, Sang Jawara Penakluk Hati Sumiyem itu tiada berdaya. Semenjak Sumiyem menjadi istrinya Warjo merasa harga dirinya sebagai seorang lelaki tercabik-cabik dan terinjak-injak. Setiap hari cacian dan makian sudah menjadi sarapan rutin paginya.

Jika Warjo bangun kesiangan dan tidak merespon panggilan istrinya, maka air satu gayung akan mendarat di wajahnya. Sebenarnya, kemarahan istri Warjo sangatlah beralasan. Sudah tiga tahun ini Warjo tidak bekerja. Ia hanya seorang pemalas dan pengangguran.

Bagaimana istrinya tidak emosi? Semua kebutuhan keluarga, dipenuhi oleh Sumiyem. Ialah yang harus pontang panting mencarinya, sedangkan setiap hari suaminya hanya tiduran saja.

Warjo menganggur semenjak perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Saat itu banyak para pekerja buruh pabrik yang di rumahkan, termasuk dirinya. Sudah tak terhitung berapa kali ia melamar untuk menjadi karyawan buruh pabrik di tempat lain, tapi tak satupun perusahaan yang menerimanya. Apakah itu gerangan yang membuat otaknya buntu dan bersikap frustasi?

“Setiap hari kerjanya tidur terus. Sana cari uang! Dasar suami pemalas!” hardik Sumiyem kepada suaminya sembari menguyur segayung air ke wajah suaminya.

Spontan Warjo terperanjat dari tidurnya. Entah mengapa, hari itu Warjo ingin berontak atas kelakuan istrinya.Wajahnya memerah. Bola matanya terbelalak lebar, seolah mau keluar. Nafasnya tersengal-segal menahan aliran darah yang memuncak hingga diubun-ubun.

Selama ini biasanya Warjo tidak pernah marah menghadapi kelakuan istrinya. Ia begitu sabar menerima cacian dan makian yang keluar dari mulut busuk istrinya. Ia menyadari posisi dirinya bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya, tapi tidak untuk pagi itu. Kesabarannya telah habis. Tangan Warjo meraih gelas yang berada di meja samping dipan tidurnya. Digenggam erat gelas itu, seolah ingin memecahkan dengan cara meremasnya atau melemparkannya ke wajah istrinya.

Untung saja seketika pikirannya tersadar. Ditepisnya jauh-jauh tindakan untuk melampiaskan sakit hatinya. Diletakkannya kembali gelas itu ke tempat semula. Diambilnya teko dan dituangkan air ke dalam gelas itu, lalu ia meminumnya.

Itulah yang dinamakan jodoh. Walau setiap hari rumah tangganya berantam terus layaknya tikus dan kucing dalam film Tom and Jerry, tapi urusan ranjang jalan terus. Buktinya hampir setiap dua tahun sekali Sumiyem mengandung dan melahirkan hasil buah cinta mereka. Bayu Gatra adalah anak bungsunya yang kelima.

Pagi itu, Warjo bergegas meninggalkan rumah, tanpa kopi panas, tempe goreng apalagi sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Segera ia berlari keluar rumah untuk menghindari amukan dan omelan istrinya yang semakin menggila. Hanya ludah basi yang dapat ditelan sebagai pengganti sarapan karena ia belum gosok gigi.

Langkah Warjo membawanya sampai ke hutan yang terletak di ujung desa. Di sana berdiri tegak sebatang pohon randu alas dengan dedaunan yang cukup rindang. Dihampirinya pohon itu, lalu ia duduk bersandar di bawahnya sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Udara pagi itu terasa sejuk sekali. Dasar tabiat Warjo yang pemalas. Sempat-sempatnya ia tertidur pulas bersandarkan pohon randu alas.

“Warjo bangun, ayo bangun Warjo!” terdengar suara wanita memanggil namanya, tapi tak jelas wujudnya.

Warjo terkejut. Perasaanya ia sudah terbangun dalam tidurnya. Ia berusaha membuka bola matanya berlahan. Gambaran di sekelilingnya berlahan-lahan terlihat jelas. Lalu ia mencoba mencari asal suara yang memanggilnya.

Dimana aku? Apakah aku sedang bermimpi? Ia bertanya-tanya dalam benaknya.

“Hai, siapa kamu? Dimana keberadaanmu? Tampakkan wujudmu!” Ia beranikan diri untuk bertanya.

“Kamu tidak perlu tahu, siapa diriku Warjo dan kamu tidak perlu tahu keberadaanku. Aku ingin menolongmu dari kesusahan. Aku ingin membuatmu menjadi kaya raya. Apakah kamu mau?” ujar suara itu terdengar jelas ditelinga Warjo.

“Ma.a..u..u,” suara Warjo gemetar, seakan tak percaya.

Tanpa pikir panjang, Warjo langsung menerima tawaran suara misterius tersebut. Ini kesempatanku untuk membuktikan kepada Sumiyem, pikirnya.

“Tapi ingat, ada satu syarat, Warjo”.

“Apa syaratnya?” Warjo bertanya.

“Setiap tanggal 17, saat bulan purnama. Kamu harus menyiram pohon randu alas ini dengan air kembang setaman.”

“Baaaiik … Hanya itu saja syaratnya?” tanya Warjo lagi.

“Iya…hanya itu saja. Tapi jika kamu melupakan permintaanku maka aku akan mengambil anak bungsumu sebagai tumbalnya.”

Tanpa pikir panjang Warjo langsung menyanggupinya,”Aku bersedia!”

Pikiran buntu telah membutakan hati Warjo. Demi mewujudkan ambisi balas dendam terhadap Suiyem, ia rela melakukan apa saja, termasuk menggadaikan anak kandungnya sendiri sebagai tumbal perjanjiannya dengan makhluk tak kasat mata yang menyesatkan.

Awan tiba-tiba menjadi gelap. Warjo seperti baru tersadar dari sebuah mimpi. Ia langsung berlari ulang ke rumahnya dan menanti saat keajaiban itu tiba. Entahlah, semua hanya menunggu waktu. Cuma itu yang bisa diperbuatnya.

About admin

Check Also

Jumat Berkah Ini Yang Dilakukan Kapolres Bersama Ketua Bhayangkari Cabang Labuhanbatu

LAMPUNG1.COM,LABUHANBATU – Jumat berkah menjadi satu momen berbagi kepada kaum dhuafa dan fakir miskin di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *