Sabtu , Januari 9 2021
Home / OPINI / Wisata Islam ke Makam Wali Songo dan Kerajaan Demak

Wisata Islam ke Makam Wali Songo dan Kerajaan Demak

Oleh: Andriady Indra
(Bagian-1)

Pada Kamis, 24 Desember 2009, setelah anakku Ihsan pulang sekolah dan menyelesaikan Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjilnya, kami bersiap-siap berangkat wisata sejarah Islam yang telah kurencanakan beberapa minggu yang lalu. Kami sengaja menunggu masuknya salat Zuhur agar lebih tenang, kemudian bersama-sama melakukan jamak dan qasar salat Asar.

Kami berangkat dari rumah menuju Cirebon tepat pukul 13:30 WIB dan sampai di sana pukul 18:00 WIB. Selama perjalanan kami ditemani Garmin – alat bantu GPS yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. GPS adalah alat bantu penunjuk jalan (navigasi) selama kami diperjalanan.

Kami berjalan sangat lama. Aku sengaja membawa kendaraan dengan santai agar selama perjalanan kami bisa melihat dan menikmati berbagai pemandangan yang indah.

Sepanjang perjalanan, sejak siang hingga sore, kami melihat sawah yang terhampar bagaikan padang rumput yang luas. Kami juga menelusuri tepi pantai. Anakku Akbar terlihat begitu senang melihat kapal.

“Sepertinya jarak kapal dan pantai cukup jauh ya Yah,” ujar Akbar berkomentar.

Saat sampai di Kota Cirebon, kami langsung menuju Masjid Agung Sunan Gunung Jati yang terletak di Jalan Kesambi. Kami shalat Magrib dan sekaligus jamak dan qasar shalat Isya berjamaah.

Selesai shalat, kami mencari hotel untuk menginap karena tubuh telah merasa letih. Kami akhirnya menginap di sebuah hotel di daerah Kalibaru, Cirebon.
Keesokan harinya, Jumat, 25 Desember 2009, setelah sarapan kami langsung meninggalkan hotel menuju Makam Sunan Gunung Jati. setibanya di sana, kami melihat arak-arakan masyarakat yang tengah memperingati Hari Asyura’ (10 Muharam).

Dalam acara tersebut kami melihat banyak patung-patung berbentuk fosil seperti dinosaurus, naga, dan aneka binatang lainnya. Selain itu ada juga patung berbentuk serangga, wayang, iblis, dan juga Spongebob (tokoh kartun yang paling sukai anakku Akbar). Kami merasa beruntung sekali dapat menikmati karnaval dan arak-arakan itu.
Menurut Akbar, dia sama sekali tidak menduga kalau ternyata adiknya, Zahra, merasa takut atas keberadaan beberapa patung yang dilihatnya di acara karnaval tersebut. Setelah sampai dikawasan makam Sunan Gunung Jati, aku memarkirkan kendaaran, lalu kami berjalan menuju makam.

Suasana udara di Makam Sunan Gunung Jati sangat panas. Makam ini dipenuhi banyak sekali orang yang berdatangan dengan maksud berziarah.

Selama berada disana kami menemukan banyak sekali hal-hal yang berbau syirik, seperti: menyentuh piring dan mengusapnya ke wajah, lalu melempar uang koin ke pintu Makam Sunan Gunung Jati. Konon menurut cerita orang-orang di sana, dengan melempar koin, mereka akan mendapat berkah dan lebih banyak rezeki. Banyak orang yang percaya dengan mitos tersebut sehingga banyak sekali orang yang melakukannya.

Selain itu di sekitar Makam Sunan Gunung Jati, kami melihat banyak sekali makam yang jumlahnya ratusan, mulai dari ukuran kecil sampai besar. Ada juga berbagai piring porselen yang menempel di dinding mulai dari ukuran kecil sampai besar.

Kami ingin tahu kenapa banyak sekali piring porselen yang ditempelkan di dinding jalan yang kami lewati. Ternyata piring-piring tersebut milik istri Sunan Gunung Jati yang merupakan keturunan Cina.

Setelah mengunjungi Makam Sunan Gunung Jati, kami melanjutkan perjalanan menuju Kraton Kacirebonan.

Tidak banyak yang kami lihat di Keraton Kacirebonan ini. Kami hanya melihat foto-foto sejarah Sultan dari awal sampai beberapa keturunan. Lalu kami masuk ke ruangan tempat barang-barang yang masih dipakai jika ada acara sekatenan dan lain-lain, serta beberapa barang bersejarah lainnya.

Kami tidak lama di Keraton Kacirebonan ini karena mau shalat Jumat di Masjid Agung Keraton Kasepuhan. Selesai dari sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Istana Keraton Kasepuhan.

Berhubung perjalanan kami pada hari Jumat, maka kami shalat Jum’at di Masjid Agung Keraton Kasepuhan, sesuai rencana. Di keraton ini banyak juga hal-hal aneh yang kami dapati.

Ketika shalat Jumat di masjid Agung ini, keanehan yang kami dapati di antaranya: azan, tanda masuknya waktu shalat dilakukan oleh tujuh orang bilal sekaligus. Kemudian pemukulan bedugnya lama sekali, lebih dari 10 menit. Selanjutnya khutbah Jum’at dilakukan dalam bahasa Arab.

Selesai shalat, Akbar dan Ihsan mengatakan padaku bahwa mereka tidak mengerti khutbahnya karena disampaikan dalam bahasa Arab.

“Ayah juga enggak ngerti,” jawabku pada mereka.

Kami hanya bisa tertawa bersama. Selama aku, Akbar, dan Ihsan shalat Jumat, Zahra dan ibunya menunggu di mobil. Lima belas menit kemudian kami sampai di mobil, lalu giliran Zahra dan ibunya menunaikan shalat Zuhur di masjid yang sama.

Setelah semuanya selesai shalat, kami pergi menuju Istana Keraton Kasepuhan yang tidak jauh jaraknya dari Masjid Agung Keraton. Keraton ini merupakan tempat tinggalnya Raja Cirebon dari dahulu hingga saat ini. Rajanya bergelar Sultan.

Kami melihat banyak sekali barang bersejarah, di antaranya: Kereta Kencana Raja asli yang sudah berumur empat ratusan tahun lebih. Ternyata kereta kencana tersebut mempunyai duplikat, yang dipakai setahun sekali untuk acara kebudayaan.

Kami mengambil foto dengan latar belakang foto Ayah Sunan Gunung Jati. Foto tersebut terlihat seperti tiga dimensi, terutama pada mata dan jempol kaki kirinya. Anehnya, foto itu selalu terlihat sedang memandang kami meskipun posisi kami sudah berpindah tempat.

Ada juga senjata-senjata yang biasa dipakai tentara berperang zaman dulu seperti berbagai meriam dan baju besi yang dipakai panglima perang, termasuk yang digunakan Fatahillah (pimpinan pasukan perang kerajaan Cirebon melawan Belanda di Sunda Kelapa-Betawi).

Selain itu terdapat juga keramik-keramik Cina dan tempat tidur istirahat sultan yang ditutupi tirai kain sembilan warna. Lalu ada alat musik yang digunakan untuk menghibur sultan dan masih banyak lagi peninggalan sejarah Kerajaan Kasepuhan Cirebon lainnya.

Kerajaan Kasepuhan Cirebon berbeda dengan Kerajaan Kacirebonan. Kerajaan Kacirebonan menurut sejarahnya, mendapat dukungan penjajah Belanda atau pro penjajah. Sedangkan Kerajaan Kasepuhan Cirebon berlawanan dengan penjajah Belanda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penjajah Belanda, sengaja mendukung kerajaan Kacirebonan untuk tujuan mengadu domba masyarakat.

Di Istana Keraton Kasepuhan kami dipandu oleh seorang pemandu wisata. Dia menceritakan bahwa ada anak kecil berumur lima tahun berasal dari Balikpapan – Kalimantan Timur, berfoto di depan kolam ikan di halaman istana keraton, kemudian setelah fotonya dicuci dalam foto tersebut terlihat penampakan buaya putih dibelakangnya yang sedang meloncat ke atas dengan posisi kepala di atas.

Anakku Akbar penasaran ingin melihat foto tersebut. Pemandu memperlihatkan foto anak itu, tapi sayangnya foto tersebut tidak boleh difoto lagi. Ditempat ini lah akhir kunjungan kami ke Istana Keraton Kasepuhan.
Selesai mengunjungi Istana yang bersejarah tersebut, perut kami mulai terasa lapar. Aku bawa keluargaku mencari restoran untuk makan siang. Kami pun akhirnya makan di restoran Sederhana Bintaro. Ternyata ada juga cabangnya di kota Cirebon ini.

Selesai makan, kami menuju situs wisata Goa Sunyaragi yang menurut sejarahnya tempat ini untuk bersemedinya para raja-raja Cirebon dan tempat Sunan Gunung Jati memberikan ceramah atau wejangan ke masyarakat Cirebon di saat beliau menjadi Raja Cirebon.

Sewaktu kami pertama tiba dan melihat situs wisata goa ini dari depan, sepertinya situs ini tidak menarik sama sekali. Ternyata di dalamnya banyak sekali peninggalan sejarah yang sangat bagus. Sebetulnya situs ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Pada situs Goa Sunyaragi terdiri dari banyak goa. Semua situs goa kami masuki, sampai-sampai anakku Akbar mengatakan kalau dia tidak ingat lagi apa saja nama-nama goanya. Namun, semua goa itu ada manfaatnya bagi kerajaan Cirebon.

Menurut pemandu wisata, goa yang paling seru adalah goa “peteng”. Menurutnya arti goa peteng adalah gua yang gelap. Sebetulnya semua gua itu gelap. Namun dari semua gua yang kami masuki, goa peteng ternyata memang merupakan gua yang paling gelap.

Banyak sekali situs-situs bersejarah di lokasi wisata Goa Sunyaragi ini. Menurut pemandu, ada 12 situs, di antaranya adalah gua yang sangat panjang dan sangat gelap yaitu goa peteng.

Menurut Akbar, gua yang paling berkesan baginya adalah gua peteng tersebut. Di sana banyak sekali susunan batu-batu sehingga bagian luar dari gua tersebut berbentuk seperti patung-patung yang unik.

Ada juga gua yang terlihat dari luar secara sekilas terlihat biasa, tapi jika diperhatikan secara seksama ternyata gua itu berbentuk seperti Barongsai dan tengkorak. Situs ini diberi nama Kompleks Mande Kemasan. Sayangnya kami lupa menanyakan artinya ke pemandu wisata.

Pada saat ingin menuju ke kompleks Mande Kemasan, kami harus menyeberangi jembatan yang terbuat dari batu bata yang cukup kuat dan tanpa pegangan. Rupanya Akbar memperhatikan adiknya Ihsan yang takut menaiki jembatan tersebut.

Ihsan langsung lari sekencang-kencangnya. Sementara itu Akbar dan adiknya yang paling kecil, Zahra, tertawa melihat kelakuan Ihsan.

Di situs wisata Goa Sunyaragi, terdapat juga pohon paling tua yaitu “pohon leci”, yang artinya Lengkeng Cina. Pohon itu sudah sangat tua dan hanya ada kulitnya saja. Kabarnya umur pohon tersebut sudah lebih dari 500 tahun. Persis di depan pohon itu ada patung berbentuk burung yang sedang duduk dan dililit ular.

Setelah puas, kami istirahat sebentar sambil minum teh botol. Ternyata capek dan haus juga berkeliling-keliling di Goa Sunyaragi. Kemudian kami pun langsung berangkat menuju Kota Demak.

***

(Bersambung ke bagian-2)

About admin

Check Also

Buah Alpukat Mini, Ditemukan Di Markas Dit Polairud Polda Lampung

LAMPUNG1.COM, Kejadian diluar kebiasaan normal, sempat mengejutkan masyarakat Provinsi Lampung, ketika menerima informasi adanya jenis …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *