Home / Ruwa Jurai / Nikah Di Tengah Pandemi Corona
Nikah Di Tengah Pandemi Corona

Nikah Di Tengah Pandemi Corona

Oleh: Ispandi Sidi Surya


Malam itu teleponku berdering. Ada nada panggil dari handphone salah seorang keluargaku yang baru tiba di Kotabumi beberapa hari yang lalu. Dia datang dari Kota Gorontalo, Sulawesi Utara yang jaraknya lumayan jauh.

Saudara perempuanku yang satu ini bertugas sebagai anggota Korps Wanita TNI Angkatan Darat (Kowad) di sana. Dia berasal dari Kesatuan Kostrad. Suaminya juga bekerja sebagai anggota TNI AD yang berdinas di Jakarta dan tinggal bersama putra-putrinya mereka.

Kehadiran saudaraku di Kotabumi itu dalam rangka mengenang masa lalunya, sekaligus akan menikahkan putri pertamanya yang kebetulan kembar.
Rencana pernikahan memang sudah sejak lama direncanakan. Sudsh beberapa kali ia pulang pergi ke Kotabumi untuk menyelesaikan segala urusan terikat rencana pernikahan tersebut.

“Hallo. Assalamualaikum . Apa kabar Yuk," sapaku mengawali percakapan lewat handphone.

“Waalaikum salam dek. Aalyuk udah di Kotabumi,” jawab saudaraku itu.

“Asiyap yuk, mohon petunjuk," jawabku lagi.

“Biso ke rumah Ayuk sekarang? Kito ngobrol-ngobrol," ajak saudaraku.

“Maaf yuk, aku ado kegiatan. Ini aku lagi ngumpul di tempat Ayuk iparku nih," balasku singkat.

Memang malam itu kebetulan salah satu keponakanku baru saja pulang dari rumah sakit. Dia sempat dirawat selama tiga malam karena terkena penyakit demam berdarah. Saat itu aku sedang membesuknya.

“Oh yo dah, nanti tolong sempatin cek persiapan tempat untuk hajat Ayuk di Rumah Makan Sedap yo,” perintah saudaraku.

“Ok Asyiap,” jawab singkatku mengiyakan perintahnya.

Juah-jauh hari aku telah diberi tugas untuk mempersiapkan kepanitian dan membantu hal-hal yang diperlukan dalam acara pernikahan anak kakak perempuanku.
Susunan kepanitiaan telah terbentuk.

Anggota kepanitian hampir keseluruhan adalah keluarga besar "Barisan Anak Kolong" (Barak) Kotabumi yang merupakan komunitas anak-anak pensiuan TNI AD tempo doeloe.

Tempat hajatan sudah aku siapkan, begitu juga dengan dekorasi dan cathering-nya. Masing-masing sudah diberi uang muka.

Segala sesuatu boleh direncanakan, konsep boleh disusun, tetapi kita hanya sebatas berusaha, ternyata Allah berkehendak lain. Wabah corona virus covid-19 melanda negeri tercinta. Pemerintah menghimbau masyarakat untuk tinggal di rumah, selalu menggunakan masker, menjaga jarak, dan dilarang berkumpul untuk mencegah penularannya.

Apa boleh buat, apapun bentuk aturan dari pemerintah akan berusaha kita patuhi.
Hal ini tentu menjadi dilema tersendiri yang mesti harus dijalani. Sementara itu acara pernikahan tak mungkin ditunda dan tetap dijalankan meskipun dalam bentuk sederhana.

Jumat selepas magrib, aku coba meluncur ke Rumah Makan “Sedap”. Tempat itu telah di booking untuk melaksanakan acara akad nikah.

Sesampainya di sana, belum ada tanda-tanda ruangan tempat rencana akad nikah ditata sebagaimana lazimnya. Dalam hati aku bertanya, kok belum diapa-apain ya?

Lalu aku coba konfirmasi ke pemilik rumah makan tersebut. Mereka hanya menjawab, “Kami hanya menyiapkan tempat dan makan prasmanan Pak. Untuk lain-lainnya seperti dekorasi, kami tidak tahu."

Selanjutnya aku coba hubungi saudaruku via telepon. Hasil percakapanku dengannya ternyata urusan dekorasi dan material lainnya sudah dipesan ke Rose, salah satu tempat penyewaan perlengkapan pesta.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dengan ditemani hujan yang cukup lebat, aku coba konfirmasi melalui telepon ke Rose.

“Assalamulaikum. Ini dengan Pak Haji Roni ya?" kataku memulai percakapan via telepon.

“Waalaikum salam. Maaf dengan siapa ya," jawab Pak Haji pemilik Rose.

“Saya Yayak, sekarang posisi sedsng nerada di Rumah Makan Sedap. Dekorasi untuk acara besok kapan dipasang Pak Haji?” aku bertanya dengan panggilan pak haji.

“Oh ini kru kami sedang muat ke atas kendaraan. Sebentar lagi berangkat kok,” jawaban pak haji.

“Ok Pak Haji, kami tunggu ya. Terima kasih," jawabku seadanya.

“Ya, sama-sama,” jawab pak haji kembali.

Kurang lebih satu jam menunggu, satu mobil pick up dengan membawa perlengkapan dekorasi sampai ke rumah makan. Berhubung masih hujan lebat, maka barang-barang di atas pick up belum bisa diturunkan.

Sambil menunggu hujan reda, aku gunakan untuk berdiskusi bersama teman-teman panitia lainnya sambil menata tempat dan ruangan agar terlihat bagus.

Hujan sepertinya tak kujung reda. Terpaksa barang-barang tetap diturunkan juga dalam kondisi hujan karena akan segera dipasang dan ditata dengan baik. Suasana tempat disetting sedemikian rupa agar terlihat rapi, mewah, dan terkesan klasik, sesuai dengan keinginan calon pengantin.

Tak terasa waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Sementara kondisi di luar masih hujan, tetapi sudah mulai sedikit reda. Rasa kantukku pun mulai terasa.

Memang waktu belum terlalu malam, tetapi sejak siang memang badanku terasa kurang begitu fit. Oleh sebab itu dengan terpaksa harus beristirahat dan pamit pulang kepads kru Rose.

"InsyaAllah besok pagi sebelum acara dimulai aku sempatkan untuk kamari lagi sekedar gladi bersih," ucapku pada mereka.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku kembali meluncur ke Rumah Makan Sedap untuk melihat hasil kerja kru Rose yang semalaman memasang dan merapihkan tempat berlangsungnya acara akad nikah.

Setibanya di sana, semua sudah dalam kondisi tertata dengan apik. Aku disambut oleh beberapa pegawai Rumah Makan Sedap dan mereka menyampaikan bahwa beberapa menit yang lalu saudaraku juga telah datang melihat dan ikut menata serta merapihkan hal-hal yang dianggap perlu.

Segala persiapan sepertinya telah fix. Aku pulang untuk mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan pada pukul 10 WIB. Materi MC yang sangat sederhana sudah disiapkan. Hanya mental dan konsentrasi nanti yang mesti betul-betul harus prima.

Pada pukul 9.30 WIB, aku telah tiba di Rumah Makan Sedap dengan menggunakan kostum batik lengan pendek, siap untuk cuap-cuap diacara akad nikah. Di sana telah hadir keluarga besar, baik yang datang dari Bandar Lampung, juga yang datang dari kotabumi.

Sambil menunggu tepat jam 10 kami sempat untuk ngobrol dan cerita seputar kondisi negeri yang saat ini waspada dengan pandemi covid-19. Sebagian kami ada yang menggunakan masker dan ada juga yang tidak menggunakan masker.

Suasana kali ini memang berbeda dengan yang seharusnya. Biasanya acara seperti ini panitia telah banyak yang hadir guna membantu proses acara akad nikah, tapi tidak kali ini. Panitia bisa dikatakan tidak ada.

Acara penyambutan yang biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian atau musik sama sekali tidak ada. Kami sengaja meniadakannya karena menghindari adanya pembubaran dari pihak yang berwenang karena berkumpul dengan banyak orang.

Pada Pukul 10.15 WIB, rombongan dari kedua calon pengantin telah sampai di tempat proses akad nikah. Beberapa saat kemudian rombongan masuk menuju ruangan dan duduk dikursi yang sudah dipersiapkan.

Tepat pada pukul 10.30 WIB, acara dimulai. Susunan acara akad nikah pun dibuat sangat singkat Tidak ada sambutan satu pun dari pihak keluarga calon mempelai, hanya diawali dengan membacakan Surat Al-Fateha, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu keluarga.

Kemudian dilanjutkan acara inti yaitu akad nikah. Acara ini langsung dipimpin oleh petugas pencatat akta nikah dari KUA setempat.

Prosesi akad nikah diawali dengan seleksi berkas administrasi dan kesiapan dari saksi-saksi dari dua keluarga. Acara begitu khikmat dan berjalan lancar.

Situasi diluar terlihat hadir para aparat keamanan dari kepolisian yang mengawasi jalannya acara kami. Semoat timbul berbagai macam perasaan kami melihat aparat dari kepolisian. Apakah mereka akan membubarkan acara ini? Pikirku dalam hatim

Sungguh acara ini seperti acara yang dibayangi-bayangi dengan berbagai macam perasaan. Namun, apapun risikonya pelaksanaan akad nikah harus tetap dilaksanakan, walaupun dengan perasaan was-was.

Kurang lebih satu jam pelaksanaan akad nikah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Di akhiri dengan doa, satu rangkaian proses akad nikah yang cukup sederhana selesai dilaksanakan. Tidak ada yang pantas kita ucapkan selain doa yang tulus kepada kedua mempelai. Semoga mereka menjadi pasangan bahagia dunia dan akherat, serta sakinah, mawaddah, dan warohmah.

Selesai sudah semua acara yang lama sudah dipersiapkan. Segala bentuk tugas dan tanggung jawab dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk saat ini bisa dikatakan selesai.

Apakah akan ada acara selanjutnya setelah ini? Hanya Tuhan yang Maha Mengetahuinya.

***

Visitor: 615