Home / Ruwa Jurai / Pria Energik : Dari Kota Metro Hingga Istana Negara
Pria Energik : Dari Kota Metro Hingga Istana Negara

Pria Energik : Dari Kota Metro Hingga Istana Negara

Dengan kasih sayang dan dukungan sang ibu, "hidup jadi tegar dan mandiri".

•  Juniardi, pria  yang dilahirkan di Kota Metro, 3 Juli 1975 merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Juniardi dibesarkan oleh  sang ibu ditengah kehidupan yang sulit akibat perpisahan kedua orang tuanya. Dengan kesendirian sang ibu membesarkan dengan  kasih sayang bahkan sangat menyanyanginya.

"Saat kecil, sebenarnya kedua orang tua saya sangat sayang dan memberikan kasih yang berlimpah. Namun, karena terjadi sesuatu hal antarkeduanya, mereka berpisah. Saya dibesarkan oleh ibu tanpa ada peninggalan apa-apa dari ayah sehingga mendidik dan membuat kami menjadi tegar, dan mandiri" kata Juniardi di ruang kerjanya, Senin beberpa bulan silam.

Meskipun Juniardi melewati masa kecilnya yang perih bersama ketiga saudaranya, atas dukungan dan semangat dari Ibunya  sebagai guru sekolah dasar (SD).

"Saya masih ingat, saat itu keadaan ekonomi keluarga sangat sulit. Bahkan, kakak perempuan saya harus menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk membantu perekonomian keluarga," ujarnya.

Juniardi pun menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Kota Metro, tetapi pendidikan yang ditempuhnya bukan tanpa perjuangan. Hingga duduk di SMP, rumah yang ditempatinya belum teraliri listrik.

"Sehingga saya belajar dengan lampu jalan dari rumah tetangga yang sudah mampu memasang listrik," kata dia.

Dia pun bersyukur bisa menyelesaikan studi hingga SMA. Lulus dari SMA, dia memiliki tekad untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, ibunya yang hanya seorang guru SD telah mengatakan tidak mampu untuk membiayainya kuliah. Apalagi, sang ibu juga harus memikirkan adik-adiknya yang masih kecil.

Hingga akhirnya Juniardi memilih untuk masuk ke kampus swasta di Kota Metro untuk mengambil Diploma 1 Komputer. Dia pun mulai kuliah di sana dengan biaya sendiri.
Untuk menutupi biaya , Juniardi pun menyempatkan bekerja serabutan , mulai dari buruh pabrik, kuli bangunan, sampai menjadi karnet angkot. Bahkan, dia juga berdagang lukisan dari barang bekas.

"Yang penting bagi saya, bagaimana bisa mendapatkan uang dan tidak membebani orang tua," paparnya.

Juniardi saat itu berprinsip selama badannya sehat dan masih kuat untuk bekerja, dia akan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang yang paling tinggi. Apalagi, waktu itu, dia melihat seorang tukang becak yang mendapatkan penghasilan Rp30 ribu sehari. Itu artinya sebulan mendapatkan uang Rp900 ribu.

BIODATA
Nama : Juniardi, S.I.P., M.H.
Lahir : Metro, 3 Juli 1975
Pekerjaan : Ketua/Komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Lampung
Pendidikan Formal:
- SD-Diploma 1 di Kota Metro
- S-1 Stisipol Darmawacana Metro, 1998
- Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila), 2009

Pendidikan Informal
- Pertukaran Pemuda Antarprovinsi, 1998
- Alumni Pelatihan Kader Pemimpin Indonesia di Masa Depan (The Future Divice Leader) di Istana Negara, 2010
- Pelatihan Mediator Bersertifikat dari Institute for Conflict Transformation (IICT), 2012

Pekerjaan:
- Jurnalis Harian Umum Lampung Post (Media Group), kontributor berita, dan media massa nasional (2003-2011)
- Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung (sejak 2011 hingga 2014)

Karya Tulis dan Penghargaan:
1. Lulus dengan predikat terbaik program Pascasarjana Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila), 2009
2. Kamaroedin Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, 2012
3. Penulis Buku Hak Anda Mendapatkan Informasi, Indept Publishing, 2012.

"Berarti, bila saya bekerja apa pun dengan badan yang sehat ini tentunya bisa melanjutkan studi sambil bekerja. Saat itu besaran uang kuliah per semester Rp600 ribu dan semuanya, dapat tertutupi dari saya bekerja apa saja," kata mantan wartawan Lampung Post itu.

Sangat wajar di masa remaja dan usia mudanya Juniardi tidak mengenal pacaran. Yang ada dalam pikirannya, bagaimana dia bisa sekolah. Dia pun akhirnya melanjutkan ke jenjang S-1 di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Darmawacana Metro. Sekalipun berjibaku dengan waktu dan keringat, Juniardi mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.

Saat akan lulus kuliah, Juniardi mulai tertarik dengan dunia jurnalistik, khususnya tulis-menulis. Karena ketertarikannya itu, dia pun pernah menjadi penulis terbaik dalam lomba menulis yang diadakan media nasional.

"Waktu itu, saya masih kuliah semester terakhir. Namun, saya mulai aktif menulis dan belum bercita-cita menjadi seorang wartawan. Namun, saya suka membaca buku-buku tentang jurnalistik," kata dia.

Jurnalistik Membawanya ke Istana

Akhirnya, untuk menunjang biaya kuliahnya, Juniardi mencoba menceburkan diri ke dunia jurnalistik dengan menjadi kontributor berita di beberapa media mingguan dan radio nasional Tri Jaya FM. Kepiawaiannya makin terasah dan teruji sehingga dia dapat menyelesaikan studinya sambil aktif di dunia jurnalistik.

Sampai pada suatu ketika pada tahun 2000-an, Juniardi berpikiran untuk meningkatkan profesionalitas jurnalistik dan masuk ke media massa yang lebih besar, yaitu Lampung Post. Juniardi pun mulai hengkang ke Kota Bandar Lampung untuk memulai karier jurnalistiknya.

"Saya berangkat ke Kota Bandar Lampung hanya membawa satu buah tas yang berisi beberapa helai baju. Sempat bingung di Bandar Lampung saya mau menginap di mana. Rupanya kebaikan Tuhan mengantarkan saya untuk dikenalkan banyak orang baik di kota ini. Mereka pun bersedia menjadi orang tua angkat saya," ujar Juniardi.

Setelah beberapa tahun mengabdi di Lampung Post, Juniardi pun memiliki keinginan untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan membulatkan tekad untuk maju, dia pun mengikuti tes magister hukum di Pascasarjana Hukum Unila.

Persoalan baru pun timbul, bagaimana dia mendapatkan biaya kuliah. Beruntung, dia mendapatkan beasiswa dari Lampung Post untuk melanjutkan kuliah. Baru satu setengah semester menjalankan kuliah, Juniardi pun menemukan jodohnya dan memutuskan untuk menikah. Sayangnya, setelah menyelesaikan S-2-nya, dia bercerai dengan sang istri yang telah memberinya satu orang anak.

"Terus terang, saya sangat sedih bercerai dengan istri. Apalagi, hal itu terjadi saat saya baru menyelesaikan magister. Saya diwisuda magister tanpa didampingi istri yang sangat saya cintai. Saya sangat sedih dan sempat tidak bersemangat menjalani kehidupan ini."

Enam bulan mengalami guncangan hidup, Juniardi pun berhasil menenangkan diri berusaha memperbaiki hidup. "Dukungan teman-teman di Lampung Post membuat saya kembali tegar dalam menjalani hidup. Saya meyakini dalam setiap cobaan akan ada jawaban yang lebih indah dari Tuhan. Akhirnya, di akhir 2009, saya mampu menyelesaikan studi dari magister hukum dengan predikat terbaik," kata dia.

Dipanggil Presiden

Pada Juli 2010, tanpa dia duga, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memanggil dia ke Istana Negara. Di sana rupanya dia mengikuti perkumpulan pemuda-pemuda terbaik bangsa. Juniardi satu-satunya orang yang ber-background wartawan se-Indonesia yang dipanggil ke Istana Negara.

"Di sana, ternyata negara mengumpulkan pemuda-pemuda terbaik bangsa, baik itu dari latar belakang militer, polisi, ilmuwan, akademisi, organisasi masyarakat, dan wartawan. Kegiatan forum yang dikemas bertajuk Pelatihan Kader Pemimpin Indonesia di Masa Depan (The Future Divice Leader) di Istana Negara," kata Juniardi.

Di Istana Negara sungguh pengalaman yang luar biasa. Selama kurang lebih satu minggu di sana dia bersukacita karena dia satu-satunya insan wartawan mewakili berapa juta wartawan yang ada di Indonesia.

Pulang dari Istana, Juniardi pun kembali menjalankan aktivitasnya. Namun, saat itu ada pembukaan penerimaan anggota Komisi Informasi Indonesia, mulai dia ketahui pada 2010. Dia pun mengikuti tes demi tesnya hingga Januari 2011 dia pun lulus seleksi dan diterima.

Pada Maret 2011, dia dilantik dan dipercaya sebagai ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung. Dia juga dipercaya sebagai ketua Forum Komunikasi Informasi se-Indonesia dan dinobatkan sebagai komisioner termuda se-Indonesia.

"Rupanya pengalaman selama di dunia jurnalistik sangat banyak membantu dalam menjalankan tugas sebagai komisioner di lembaga tinggi negara, yaitu Komisi Informasi," kata dia. (Surya Bakara/red).

Visitor: 373